Thursday, May 7, 2009

Perilaku Penumpang KRD di ASIA


KRD India (sumber dari : www.forum.sgindo.com)

KRD Pakistan (sumber : www.artsytime.com)


KRD Indonesia (sumber : www.kompas.com)

KRD Bangladesh (sumber dari : www.forum.sgindo.com)
Baca Selengkapnya......

Thursday, April 30, 2009

Sang Pelopor

"Bekerjalah, anakku, sebab semesta menginginkan bekerja, bukan menghafal. Mencoba dan teruslah mencoba, sampai engkau menemukan legenda hidupmu sendiri. Di dalam kemiskinan dan keterbatasan, janganlah kita membuat pembenaran untuk kalah atau menyerah," ucap Bu Kasmi kepada semua muridnya di Madrasah Kampung Sawah.

Bu Kasmi benar. Kemiskinan dan keterbatasan (baca: sarana dan prasarana) janganlah dijadikan alasan untuk kalah atau menyerah. Motivasi Bu Kasmi kepada anak didiknya itu bisa ditemui di halaman novel Sang Pelopor karya Alang-alang Timur, yang edar pada Desember 2008.

Dari 220 juta penduduk Indonesia, sebanyak 33 juta di antaranya hidup dalam lautan kemiskinan. Miskin identik dengan ketidakmampuan mengakses sumber-sumber daya alam, dana, dan jaringan. Kemiskinan membuat mereka tak berdaya secara sosial dan ekonomi.

Meski dari sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama (sembilan tahun) sudah digratiskan oleh pemerintah, para keluarga miskin tetap saja tak mampu membawa anak-anaknya ke sekolah. Lihatlah di jalan-jalan raya di kota-kota besar, betapa jamak pemandangan anak-anak usia sekolah --bahkan juga anak prasekolah-- dieksploitasi untuk jadi pengemis, pengamen, pemulung, dan seterusnya. Belum terasa sentuhan tangan-tangan pemerintah sebagaimana diamanatkan konstitusi. Pada saat bersamaan, peran lembaga swadaya masyarakat dan swasta dalam menggapai mereka masih minim.

Bagi rakyat miskin, biaya sekolah gratis saja belumlah cukup. Mereka masih memerlukan modal untuk bersekolah, berupa pakaian, tas, buku, dan alat-alat tulis lainnya. Ini belum termasuk biaya transportasi dan bekal selama proses belajar. Jalan pintas yang mereka lakukan adalah: lebih baik membantu orangtua untuk mencari sesuap nasi. Jadilah mereka anak-anak jalanan di usia yang sangat dini. Inilah problem yang dialami bangsa Indonesia, sebuah bangsa besar yang tak pernah sepi dari masalah, baik ekonomi, sosial, maupun politik!

Problem yang dialami bangsa ini tak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan. Dalam hiruk-pikuk politik nasional pasca-pemilu legislatif dan menyongsong pemilihan presiden pada Juli mendatang, kita perlu membuka lembaran sejarah para tokoh di berbagai bidang, dari ilmu-ilmu sosial, agama, sampai teknologi informasi.

Sejarah bangsa ini adalah sejarah orang-orang yang gigih dalam memperjuangkan cita-cita luhur guna menjunjung harkat dan martabat kemanusiaan. Tengoklah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara (2 Mei 1889-26 April 1959), yang hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan. Setelah keluar dari STOVIA (sekolah dokter bumiputra) karena sakit, Soewardi mengabdikan diri sebagai penulis dan wartawan untuk beberapa surat kabar, antara lain Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Ia dikenal sebagai wartawan yang gigih, bahasanya komunikatif, dan semangat antikolonialnya tajam menghunjam.

Perjuangannya tidak hanya lewat tulisan. Soewardi juga aktif di partai politik. Ketika Boedi Oetomo berdiri pada 1908, Soewardi ikut terlibat. Ia aktif di bagian propaganda dan bertugas menyosialisasikan gagasan tentang pentingnya kesadaran berbangsa dan bernegara secara mandiri.

Soewardi juga menjadi anggota Insulinde, organisasi multietnik yang didominasi kaum indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. Organisasi ini dimotori Ernest Douwes Dekker. Tatkala Dekker mendirikan Indische Partij, Soewardi pun bergabung.

Puncak kejengkelan Belanda terjadi ketika Soewardi menulis di surat kabar berbahasa Belanda, De Expres, pimpinan Dekker, pada 1913, dengan judul "Als ik eens Nederlander was" ("Seandainya aku seorang Belanda"). Tulisan ini mengkritik habis Pemerintah Belanda yang menyelenggarakan pesta kemerdekaan di negeri yang kemerdekaannya dirampas.

Keruan saja, Pemerintah Belanda marah. Atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg, Soewardi pun ditangkap. Singkat cerita, bersama Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo --juga tokoh pergerakan-- Soewardi diasingkan ke Negeri Belanda. Di "negeri kincir angin" itulah ia memperdalam ilmu pendidikan dan berhasil mengantongi Europeesche Akte, semacam ijazah pendidikan yang cukup bergengsi di kala itu.

September 1919, Soewardi kembali ke Tanah Air. Pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa. Tujuh tahun kemudian, ketika usianya genap 40 tahun, Soewardi mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Pada saat itu juga, gelar kebangsawanannya dilepaskan. Baginya, dengan melepaskan gelar kebangsawanannya itu, ia lebih dekat dengan rakyat yang diperjuangkannya, baik jiwa maupun raganya. Inilah pemimpin sejati, sejatinya tokoh yang lebih banyak berkarya dan tak silau oleh sederet gelar.

Ki Hadjar Dewantara telah mengajari kita betapa sebuah cita-cita itu perlu diperjuangkan, bukan datang dengan sendirinya, bukan pula hadir sebagai hadiah. Ki Hadjar tidak sendirian. Masih banyak anak bangsa yang namanya terukir dengan tinta emas. Datang dari berbagai latar belakang pendidikan, ekonomi, dan sosial. Mereka adalah pelopor di bidangnya, dengan kegigihan dan keberanian yang tak kenal menyerah, apalagi kalah. Merekalah sumber inspirasi yang tak pernah kering untuk ditimba, guna terwujudnya Indonesia emas yang dicita-citakan. Dan mereka berjuang lewat dunia pendidikan.

Lalu, apa yang diperlukan dari bangsa yang besar ini? Yang dibutuhkan adalah pemimpin, bukan sekadar manajer! Ya, menurut Seth Godin, penulis buku laris Tribes; We Need You to Lead Us, pemimpin memiliki pengikut, sedangkan manajer memiliki karyawan. “Manajer menciptakan produk biasa. Pemimpin menciptakan perubahan,” tulis Godin.

Perubahan, inovasi, dan kreasi terus ditumbuhkembangkan guna menciptakan prestasi. Untuk mencapainya, diperlukan tiga langkah: memotivasi, menghubungkan, dan membuat terobosan. Dan itu dibutuhkan pemimpin, bukan sekadar manajer, bukan pula sekadar politikus.

Karena itu, jadilah pemimpin, sekecil apa pun bentuk kepemimpinan Anda, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim:

"Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin dalam keluarganya, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Laki-laki itu pemimpin, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya."

Herry Mohammad
[Mukadimah, Gatra Edisi Khusus Beredar 30 April 2009]

Baca Selengkapnya......

Monday, April 27, 2009

Ketika Musim Caleg Stres Tiba

Calon Anggota Legislatif
Ketika Musim Caleg Stres Tiba

Harapan Kristofel Ma'ak sempat melambung tinggi. Calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Golkar untuk DPRD Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ini sudah membayangkan enaknya menjadi anggota dewan. Sebagai wakil rakyat nanti, dirinya akan merasa terhormat dan punya gaji gede. Belum lagi ada uang ini-itu.

Pokoknya, siapa pun tahu, jadi wakil rakyat itu sungguh syik-asyik. Apa hendak dikata, lain yang diimpikan, lain pula kenyataan. Caleg pemula itu gagal memperoleh kursi. Perolehan suaranya jeblok. Bahkan pemungutan suara di tempat pemungutan suara (TPS) tempat ia mencontreng hanya menghasilkan satu suara untuknya, suaranya sendiri.

Warga Desa Babau, Kupang Timur, Kabupaten Kupang, itu kecewa berat. Usai menghadiri perhitungan suara di TPS di lingkungan tempat tinggalnya tersebut, lajang 44 tahun itu memacu motornya pulang ke rumah. Tembok pagar rumahnya sengaja diseruduk. Brak! Brak! Sepeda motor pun ringsek. Kristofel terpental berlumur darah.

Kaki kanannya patah, tulang rahangnya retak. Selama beberapa hari, Kristofel menghuni bangsal kelas III Rumah Sakit Umum Kupang. Belum lagi perawatannya tuntas, Kristofel cabut dari rumah sakit. "Beta tak mampu bayar lagi," ujarnya susah payah karena rahangnya masih cedera.

Seluruh modalnya, Rp 160 juta, amblas untuk pendaftaran, biaya tim sukses, sosialisasi, kampanye, hingga lobi-lobi kecil menjelang pemungutan suara. Putus asa karena modal usaha melayang, termasuk beberapa bidang tanah yang dilegonya, Kristofel pun gelap mata. Pemborong kecil-kecilan itu mengaku bermaksud bunuh diri.

"Beta kecewa berat, tak punya apa-apa lagi. Rasanya lebih baik mati saja," kata Kristofel, yang tadinya sangat berharap menjadi anggota dewan yang terhormat itu. Ia merasa sedikit terhibur sekaligus malu hati ketika dibesuk Sekretaris DPD Partai Golkar NTT, Cyrilus Bau Engo, yang didampingi pengurus Golkar lainnya. "Beta menyesal, mengapa harus sampai merepotkan mereka," kata Kristofel lagi.

Cyrilus Bau Engo menyesalkan tindakan korban. "Sebagai politisi seharusnya bisa siap kalah atau menang, terutama secara mental," katanya. Nasib Kristofel masih agak beruntung, setidaknya nyawanya selamat. Tapi lihatlah Sri Hartati, 23 tahun. Caleg perempuan ini meninggal karena bunuh diri.

Jasadnya ditemukan tergantung di saung di kebun kelapa di Dusun Cikadu, Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar, Ciamis, Jawa Barat, Selasa pekan lalu. Sehelai robekan kerudung warna putih terlilit di leher caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk DPRD Kota Banjar, Jawa Barat, itu.

Sri Hartati masih tercatat sebagai warga Dusun Cisauheun, Desa Situbatu, Kecamatan Banjar, Kota Banjar. Suaminya, Mastur Maulana, adalah warga Dusun Cikadu. Usai mencontreng di TPS 005 di Situbatu, suami-istri itu kembali ke Cikadu. Senin dini hari 13 April, Mastur terbangun dan mendapati istrinya tak di sampingnya lagi. Mastur melaporkan hilangnya Sri ke Kepolisian Sektor (Polsek) Langkaplancar.

Tiba-tiba, Selasa paginya, jenazah Sri ditemukan tergantung di saung oleh dua warga yang hendak menyadap nira. Menurut Kanit Reskrim Polsek Langkaplancar, Bripka Adung, korban dipastikan meninggal akibat bunuh diri. Kesimpulan ini bersandar pada hasil otopsi, keterangan saksi, dan penyelidikan polisi. Ada dugaan, korban berbuat nekat karena stres setelah gagal menjadi anggota dewan. Almarhumah hanya memperoleh delapan suara.

Mastur amat terpukul. Lebih-lebih, sang istri berpulang membawa anak pertama mereka yang masih janin berusia empat bulan lebih. Keluarga besar korban shock. Namun mereka menolak mengaitkan tindakan nekat Sri itu dengan kegagalannya menjadi legislator. Mereka juga enggan berkomentar. "Maaf, keluarga sudah mengikhlaskan," kata seorang paman Sri.

Sri tercatat sebagai mahasiswi semester IV Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Darussalam, Ciamis. Ia rajin bergaul dan aktif berorganisasi. Menurut Ketua DPC PKB Kota Banjar, Zainal Mutaqien, Sri adalah simpatisan yang direkrut PKB Muhaimin dan masuk nominasi caleg untuk memenuhi syarat keterwakilan 30% caleg perempuan.

Sri ditempatkan di daerah pemilihan I Kota Banjar, bersama sejumlah caleg PKB pemula lainnya. "Kami tidak menekankan untuk meraih suara sebanyak-banyaknya. Kami tidak membebani," kata Zainal. Ia membantah dugaan bahwa Sri telah mengeluarkan dana besar untuk pencalonannya. "Para caleg PKB tidak mengeluarkan dana banyak karena kampanyenya tidak mengerahkan massa," Zainal menjelaskan.

Namun, menurut sumber di lingkungan keluarga Sri, sebut saja Mamat, yang bersangkutan cukup banyak mengeluarkan biaya. Mamat tak tahu persis jumlah pastinya. "Untuk keluarga kami, Rp 15 juta saja, misalnya, itu sudah besar," kata Mamat. Ia telah menasihati Sri agar tidak berlebihan dan jangan terlalu berharap lolos jadi legislator. "Tetangga juga banyak yang menasihati. Tapi Sri tak menghiraukan kami," Mamat menambahkan.

Kekhawatiran keluarga dan tetangga Sri terbukti. Di TPS tempat Sri mencontreng, Sri hanya mengantongi empat suara. Pada saat itu, pihak keluarga melihat Sri begitu terpukul. Sang suami mengajaknya ke Cikadu, mungkin agar Sri dapat menenangkan diri dan melupakan kekalahannya. Nyatanya, Sri betul-betul terpukul dan memilih mengakhiri hidupnya.

Zainal Mutaqien mengaku kaget atas kematian Sri Hartati yang tragis itu. Namun, ia yakin, kematian Sri tidak terkait dengan proses pencalegannya. Kendati begitu, belajar dari kejadian ini, menurut Zainal, ke depan pihaknya akan lebih selektif menjaring bakal caleg, agar kejadian seperti dilakoni Sri tak terulang.



Setiap kali pemilu legislatif berlangsung, selalu saja diwarnai cerita menyedihkan menyangkut polah caleg yang gagal memperoleh kursi. Memang, dari pemilu yang sudah-sudah, belum diperoleh statistik mengenai berapa jumlah caleg yang stres, gila, atau bahkan bunuh diri. Namun diyakini, tren itu makin meningkat pada Pemilu 2009 ini. Setidaknya, itu terpantau dari gencarnya pemberitaan media massa.

Hampir setiap hari, media melansir berita mengenai kelakuan caleg yang gagal menjadi legislator. Dari sekadar menarik kembali sumbangan benda yang telah diberikan kepada warga, menjadi gila, meninggal mendadak, sampai bunuh diri. Kalau pada Pemilu 2004 tak ada pemberitaan mengenai caleg yang bunuh diri, stroke, atau meninggal mendadak, pada pemilu kali ini berita-berita seperti itu bermunculan.

Masih di Jawa Barat, misalnya, seorang caleg perempuan dilaporkan meninggal mendadak. Mieswati, caleg provinsi dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) daerah pemilihan IX Jawa Barat, diduga meninggal akibat serangan jantung, menyusul perolehan suaranya yang jeblok. Ia meninggal di rumahnya di Kelurahan Kersa Menak, Kecamatan Kawulu, Kota Tasikmalaya.

Di Bali, caleg dari Partai Hanura untuk DPRD Buleleng bernama Ni Putu Lilik Heliawati juga meninggal mendadak, Kamis malam pekan lalu. Seperti diberitakan media, warga Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng, ini diduga meninggal akibat serangan jantung setelah menerima telepon dari tim suksesnya bahwa perolehan suara yang bersangkutan tidak memenuhi harapan.

Sri Sumini, caleg dari Partai Demokrat untuk DPRD II Kota Solo, Jawa Tengah, juga diberitakan meninggal akibat serangan jantung setelah gagal memperoleh kursi legislatif. Menurut Sekretaris Partai Demokrat Solo, Supriyanto, almarhumah memang mengidap penyakit jantung dan diabetes. Empat hari sebelum pencontrengan, masih kata Supriyanto, Sumini ambruk dan dirawat di rumah sakit. "Kebetulan saja meninggal setelah perhitungan suara," katanya.

Sejumlah daerah lain menyimpan cerita serupa menyangkut caleg yang meninggal mendadak. Di luar itu, masih banyak cerita mengenai caleg yang mengalami gangguan jiwa. Di Karanganyar, Jawa Tengah, dilaporkan ada sembilan orang yang mengalami stres dan menjadi penghuni baru Wisma Rehabilitasi di daerah itu. Enam di antaranya adalah caleg, tiga lainnya anggota tim sukses.

Di wisma itu, sembilan orang yang mengalami stres tersebut menjadi teman baru Sumanto, si pemakan mayat. Menurut Supono Mustajab, pimpinan Wisma Rehabilitasi, sembilan orang dari berbagai partai politik yang mengalami stres itu berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Para pasien baru ini terpukul karena kalah dalam pemilu, padahal uang sudah banyak dihabiskan. "Mereka mengigau minta uang dikembalikan," ujar Supono.

Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi (RSMM) di Bogor juga mulai kedatangan pasien dari kalangan caleg yang mengalami stres. Sampai Selasa lalu, setidaknya ada dua pasien baru, masing-masing seorang caleg dan seorang tim sukses. Keduanya berasal dari partai politik yang masuk 10 besar Pemilu 2009. Malah, menurut Humas RSMM, Farid Patutie, sebelum hajatan demokrasi digelar, rumah sakit itu kedatangan lima caleg yang sudah mengalami stres.

Para pasien dari kalangan partai politik itu mengalami gangguan jiwa ringan, berupa perasaan cemas. Di antara gejala yang mereka alami adalah sulit tidur, tidak ada nafsu makan, tidak bersemangat, dan malas ngomong. "Ini membuat keluarga mereka terganggu sehingga dibawa ke sini," kata Farid kepada Putri Mira Gayatri dari Gatra. Farid memperkirakan, pasien dari kalangan caleg lainnya masih akan berdatangan ke rumah sakit itu.

Dari Kupang dilaporkan, caleg yang mengalami stres di daerah itu juga diprediksi terus bertambah. Prediksi ini diamini Blasius Radja, psikolog dari Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang. Penyebabnya, menurut Blasius, yang bersangkutan menjadi caleg semata-mata termotivasi oleh uang dan jabatan, sementara mereka tidak mengukur diri.

Akibatnya, harapan mereka terlalu tinggi sehingga tak segan mengeluarkan biaya banyak demi mengejar harapan yang seolah di depan mata itu. "Ternyata yang diharapkan itu jauh dari kenyataan. Mereka pun jadi stres," kata Blasius. Tingkat stresnya bervariasi, tergantung seberapa rapuh mental mereka dan seberapa banyak duit yang telah ditabur.

Dalam pandangan Asep Warlan Yusuf, pengamat politik dari Universitas Parahyangan, Bandung, selain motif mengejar jabatan dan uang tadi, sistem Pemilu 2009 dinilainya turut berperan melahirkan caleg-caleg stres. Soalnya, sistem suara terbanyak memungkinkan ketidakpastian sekaligus harapan bagi setiap caleg untuk terpilih. Caleg nomor atas sama peluangnya untuk terpilih atau tak terpilih dengan caleg nomor bawah.

Ini berbeda dari saat masih menganut sistem nomor urut. Dengan sistem nomor urut, caleg nomor bawah jauh-jauh hari telah merasa tak bakal lolos sehingga tidak menggantung asanya tinggi-tinggi. Nah, perubahan sistem ini, menurut Asep, tidak diantisipasi para caleg. Mereka jorjoran menghabiskan duit --bahkan dengan mengutang atau menggadaikan harta-- demi meraih tujuan. Ketika gagal, "Semua itu menjadi beban berat luar biasa bagi mereka," tutur Asep.

Asep mengkhawatirkan, fenomena caleg stres, gila, dan bunuh diri menjadi penilaian negatif di mata masyarakat. Untuk mengantisipasinya, ke depan ia menyarankan, partai harus mengukur keuangan dan peluang si caleg. Ia mengingatkan pula, pada Pemilu 2014, jika sistem suara terbanyak tetap dipakai, para calegnya harus lebih siap.

Syukurlah, dibandingkan dengan jumlah caleg yang mengalami stres, caleg yang gagal tapi bersikap biasa-biasa saja diyakini jauh lebih banyak. Mereka boleh dibilang sudah mempersiapkan diri akan kemungkinan menghadapi kekalahan itu. Contohnya M. Asrian Mirza, caleg dari Partai Gerindra untuk DPR-RI daerah pemilihan Kalimantan Barat.

Menurut Asrian, salah satu kesiapannya adalah dengan mengedepankan motivasi bahwa ia menjadi caleg demi pengabdian lewat jalur politik. "Kalau motivasinya sejak awal adalah mencari nafkah dan mengejar jabatan, ya, memang repot," katanya. Itulah sebabnya, salah satu Ketua DPP Gerindra yang berprofesi sebagai fotografer ini tak terlalu risau akan nasib pencalegannya.

Pada saat ini, sambil menunggu hasil rekapitulasi suara yang berjalan lamban --belum jelas apakah ia terpilih atau gagal-- Asrian happy-happy saja menggelar pameran foto di Jakarta.

Taufik Alwie, Antonius Un Taolin (Kupang), Wisnu Wage Pamungkas (Bandung), dan Arif Koes Hernawan (Semarang)
[Nasional, Gatra Nomor 24 Beredar 23 April 2009]

Baca Selengkapnya......

Wednesday, April 22, 2009

Penghasilan, Perlindungan dan Penghargaan

Penghasilan, Perlindungan dan Penghargaan
Terhadap Guru Masih Rendah

Jakarta, Pelita
Mutu pendidikan di Indonesia hingga saat ini masih dinilai rendah dibanding dengan negara-negara lain, menurut Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Dr Sulistiyo, karena ada 6 faktor yang harus diperbaiki.
Hal itu dikatakan Sulistiyo saat memberikan orasi ilmiah dalam acara Wisuda Sarjana S1 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kusumanegara, kemarin.
Menurutnya, mutu pendidikan rendah karena beberapa faktor. Pertama, manajemen/birokrasi pendidikan masih belum baik, diantaranya pengelolaan pendidikan cenderung kaku, birokratis dan belum sepenuhnya mampu mengembangkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), pengelolaan pendidikan belum efisien dan efektif, birokrasi pendidikan banyak yang tidak mempunyai kemampuan memadai untuk merancang program dan melaksanakannya dengan berbasis kualitas dan pengangkatan birokrasi pendidikan kental dengan nuansa politik.
Terkait dengan guru, kata Sulistiyo, masih rendahnya mutu dan profesionalisme guru, seperti penguasaan materi pembelajaran, penguasaan metode mengajar, kreativitas, kemampuan mengevaluasi, mengelola kelas dan membimbing siswa.
Selain itu, kesejahteraan (kesra) guru meliputi penghasilan, perlindungan, ketenangan, karier dan penghargaan perlu diperjuangkan. Kualifikasi guru juga belum memenuhi ketentuan dan persebaran guru tidak merata.
Belum baiknya mutu pendidikan, juga karena kurang sarana dan prasarana pendidikan. Hampir 50 persen infrastruktur/bangunan sekolah rusak, ujarnya. Selain itu, belum memiliki laboratorium yang memadai, perpustakaan belum efektif, sarana pendidikan olahraga dan kesenian sangat tidak memadai.
Pendekatan pendidikan lebih menekankan pada input dan output, kurang memperhatikana aspek proses pendidikan, ujarnya.

Menurutnya, kurang dan rendahnya biaya pendidikan baik dari APBD/APBN dan partisipasi masyarakat dan praktik pendidikan diceraikan dari pemikiran politik menyebabkan pendidikan tidak hanya buta politik tetapi alergi bahkan takut politik, political will dan implementasi kebijakan tidak berpihak pada pendidikan.
Sementara itu, seusai memberikan orasi ilmiah, Ketua Umum PB PGRI langsung menerima secara simbolis bahwa lulusan STKIP Kusumanegara menjadi anggota PGRI.
Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) Provinsi DKI Jakarta Margani M Mustar saat memberikan sambutan mengatakan Pemda DKI Jakarta melalui program penyetaraan dan beasiswa memberikan kesempatan kepada guru untuk kuliah kembali pada perguruan tinggi atas biaya pemerintah provinsi DKI Jakarta dab APBN.
Program ini bekerjasama dengan LPTK dan Perguruan Tinggi. Salah satu LPTK yang melaksanakan program tersebut adalah perguruan tinggi STKIP Kusumanegara, ujarnya.
Komitmen Pemda DKI Jakarta terhadap pembangunan sektor pendidikan sudah sangat jelas karena pada tahun 2007 lalu dikucurkan dari anggaran APBD tidak kurang dari 21 persen.
Ini berarti sudah melampaui anggaran pendidikan nasional yang dituntut Undang-Undang yaitu 20 persen dari APBN atau APBD, katanya.
Menurut dia, Pemda DKI Jakarta memberikan penghargaan dan apresiasi setinggi-tingginya kepada STKIP Kusumanegara sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang telah membantu peningkatan mutu pendidikan melalui program kualifikasi pendidikan strata satu bagi guru dan calon guru di Jakarta.
Ketua STKIP Kusumanegara Jakarta yang juga Bendahara Umum PGRI Drs. H. Sugiharto MM mengatakan peserta wisuda sarjana strats 1 STKIP Kusuma Negara Semester Genap Tahun Akademik 2007/2008 diikuti sebanyak 802 wisudawan wisudawati dengan rincian sebagai berikut, jurusan pendidikan Bahasa Inggris sebanyak 111 wisudawan, jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sebanyak 609 wisudawan dan jurusan pendidikan matematika sebanyak 82 wisudawan.
Dengan pelaksanaan wisuda ini, jumlah alumni STKIP Kusumanegara Jakarta bertambah menjadi 4.443 alumni, terdiri dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris 667 orang, jurusan PPKn 3.052 orang dan jurusan pendidikan Matematika 724 orang.

Dari : www.hupelita.com Baca Selengkapnya......

Belajar dari Pebisnis Makanan Legendaris Dunia

All money means to me is a pride in accomplishment.

Ray Kroc
Pendiri Mc Donalds

Banyak orang tertarik untuk berbisnis restoran karena melihat kesuksesan para pebisnis restoran. Tetapi banyak orang yang tidak tahu bagaimana perjuangan yang harus dilalui sebelum mencapai kesuksesan tersebut. Semua bisnis yang sukses pasti memerlukan kerja keras, tetapi untuk bisnis restauran, kerja keras saja tidaklah cukup. Ada satu ungkapan yang menarik dari Dominique Chapeau, pemilik Chauntaclair Restoran di Amerika, mengenai bisnis restoran. Menurutnya, seorang pebisnis restoran harus bisa menjadi seorang diplomat, politikus, aktor, salesman, pemain akrobat dan juga keset kaki! If he’s not the strong, silent type, there’s always suicide!
Tetapi banyak juga pengusaha yang bisa menjalani hidup sebagai pebisnis restoran dengan sukses. Beberapa bahkan menjadi legenda di dunia bisnis. Siapa yang tidak mengenal McDonalds, Kentucky Fried Chicken, Wendy’s, Starbucks Coffee? Mall manapun yang kita masuki di kota-kota besar di Indonesia pasti mempunyai minimal satu outlet dari salah satu brand-brand tersebut.

Tetapi taukah Anda bahwa orang dibalik sukses bisnis2 kerajaan makanan itu pernah mengalami hidup susah selama berpuluh-puluh tahun sebelum mereka sukses? Ray Kroc pendiri Mc Donalds tidak pernah tamat SMA dan menjadi supir ambulans pada perang dunia kedua. Dave Thomas, pendiri Wendy’s adalah seorang anak adopsi yang tidak pernah mengenal orang tua kandungnya, bekerja di sebuah restaurant barbecue sajak usia 12tahun. Tom Monaghan pendiri Domino Pizza kehilangan ayahnya pada usia 4 tahun dan menghabiskan masa kecilnya dipanti asuhan.Sekarang mereka semua adalah pemilik kerajaan bisnis makanan yang bernilai ratusan juta dolar… Menarik sekali untuk menelusuri kisah hidup mereka dan belajar dari bagaimana mereka membangun bisnis dari nol menjadi raksasa. Apa sih yang membuat mereka sukses?

1. Kerja keras:
Luck is a dividend of sweat. The more you sweat, the luckier you get.

Ray Kroc

Ada orang yang berpikir jika bisnis sedang tidak baik tandanya hokinya sedang kurang bagus. Tetapi Ray Kroc, pendiri McDonalds, mengatakan bahwa keberuntungan adalah bunga dari kerja keras. Semakin keras kerja Anda, semakin beruntung Anda. Tom Monaghan, pendiri Domino Pizza, sejak kecil adalah seorang pekerja keras. Pekerjaan pertamanya adalah loper koran. Dan selama 13 tahun awal karirnya sebagai seorang pebisnis, dia bekerja 100 jam per minggu, 7 hari seminggu dan hanya berlibur satu kali yaitu saat berbulan madu dengan istrinya, itupun hanya 6 hari. Mendiang Dave Thomas, pendiri Wendy’s, pun terkenal sebagai seorang workhaholic, memulai pekerjaan pertamanya sebagai waiter pada usia 12 tahun dan pada usia 35 tahun menjadi multijutawan. Jadi kerja keras adalah hal pertama yang bisa kita pelajari dari para pebisnis makanan dunia.

2. Mempunyai tujuan

“I believe that everyone on earth has a certain goal/dream in life.”

Tom Monaghan- Founder Domino Pizza

Tom Monaghan kecil terinspirasi oleh cerita mengenai Abraham Lincoln, seorang anak petani miskin yang karena kerja kerasnya kemudian menjadi Presiden Amerik Serikat. Tom kecil mempunyai mimpi untuk tidak hanya mendapat yang baik atau lebih baik tetapi yang terbaik. Mimpi untuk menjadi yang terbaik membuatnya tidak pantang menyerah meskipun beberapa kali harus mengalami kegagalan sebelum akhirnya tercatat sebagai salah satu dari 400 orang terkaya di Amerika Serikat.

Mimpi kemudian menjadi sebuah visi, apa yang ingin kita capai di masa yang akan datang. Visi akan menjaga kita tetap di jalur yang benar menuju kesuksesan, yang memotivasi ketika bisnis tidak semulus yang diharapkan.

Sebagai seorang pebisnis restoran, visi yang dimiliki adalah visi sebagai individu dan juga visi untuk restorannya. Tom Monaghan memiliki visi untuk Domino Pizza, yaitu menjadi Restoran Pizza terbaik di dunia dan saat ini Domino memiliki 5300 outlet dengan 115.000 karyawan dan sales lebih dari 2.5milyar.

Beranilah untuk bermimpi dan jangan menyerah untuk mewujudkan mimpi tersebut adalah hal kedua yang kita pelajari.

3. Passion

“‘We’re not in the business of filling bellies. We’re in the business of filling souls.’”

Howard Schultz

Howard Schultz, CEO Starbucks Coffee, meninggalkan pekerjaannya yang bergengsi di Manhattan karena tertarik dengan passion akan kopi yang dimiliki oleh Gordon Bowker dan Jerry Baldwin, pemilik Starbucks mula-mula. Starbucks adalah bisnis yang membuatnya jatuh cinta dan mengerjakannya dengan sepenuh hati.

Memilik passion terhadap apa yang kita kerjakan adalah sebuah kekuatan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Bisnis yang dijalankan dengan passion adalah sebuah kesenangan yang berbuah kesuksesan. Kopi dan starbucks adalah passion terbesar dari Howard Schultz yang mengantarnya mensukseskan Starbucks dari 3 outlet kecil menjadi 3000 outlet di seluruh dunia.

Cintailah bisnis Anda, dan apa yang Anda kerjakan adalah hal ketiga yang kita pelajari bersama.

4. Kesabaran dan Ketekunan

I made a resolve then that I was going to amount to something if I could. And no hours, nor amount of labor, nor amount of money would deter me from giving the best that there was in me. And I have done that ever since, and I win by it. I know.

Colonel Harland Sanders

pendiri KFC

Taukah Anda berapa lama waktu yang diperlukan oleh Harland Sanders untuk menemukan resep ayam goreng Kentucky yang kita kenal sekarang? 9 tahun! Ya, selama lebih dari 9 tahun Harland Sanders terus melakukan R&D untuk menghasilkan resep rahasia ayam goreng kentucky. Dan ternyata perlu waktu sampai 20 tahun sebelum KFC mulai difranchise-kan dan menuai kesuksesan besar seperti yang sekarang kita lihat.

Kesuksesan memerlukan ketekunan dan kesabaran, bisnis makanan seringkali mengalami pasang surut, diperlukan ketangguhan untuk bisa sukses di bisnis ini. Seperti dalam tulisan saya di Kontan beberapa waktu lalu, seorang pebisnis restoran haruslah seseorang yang senang melayani orang, tidak mudah frustasi, dan tidak mudah lelah.

5. Intuisi Bisnis

Ray Kroc yang dikenal sebagai pendiri McDonalds ternyata bukan lah pemilik McDonalds yang pertama. Adalah McDonalds bersaudara yang pertama kali mendirikan restaurant hamburger ini. Howard Schultz yang sangat identik dengan Starbucks juga bukanlah pendiri Starbucks coffee, Gordon Bowker and Jerry Baldwin adalah yang pertama kali membangun Starbucks coffee. Tetapi Ray Kroc dan Howard Schultz lebih dikenal orang sebagai pendiri McDonalds dan Starbucks karena mereka yang memiliki intuisi bisnis dan kemampuan untuk menangkap konsep dengan segala kerumitannya dan menjalankannya dengan cara terbaik.

Ray Kroc dan Howard Schultz hanya sebagian kecil contoh pengusaha makanan yang sukses mengembangkan bisnis makanan kecil milik orang lain menjadi bisnis besar. Jadi, untuk menjadi pengusaha makanan, Anda tidak perlu harus pintar masak atau memiliki resep rahasia keluarga. Seseorang yang mempunyai intuisi bisnis yang baik dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat orang kebanyakan. Bisnis yang kelihatannya kecil dan tidak menarik ternyata bisa dikembangkan menjadi bisnis besar. Hanya Ray Kroc, seorang salesman mixer, yang melihat bahwa sebuah restauran hamburger kecil di San Bernardino California bisa menjadi sebuah chain restoran fast food terbesar di dunia.

Belajar dari kisah sukses orang lain adalah sangat berharga, bahkan nama-nama legendaris yang kita bahas dalam artikel ini pun ternyata mendapat inspirasi dari kesuksesan pebisnis lain. Howard Schultz terinspirasi oleh Mc Donalds dalam mengembangkan outlet-outletnya. Dave Thomas, pendiri Wendy’s, terinspirasi oleh ketekunan dan kerja keras Colonel Sanders yang sempat menjadi atasannya di KFC. Semoga kita pun dapat menjadi inspirasi untuk membuat orang lain menjadi lebih baik.

Amin.

Ratna Somantri

dimuat di rubrik Refleksi KONTAN 2007

Baca Selengkapnya......

Monday, April 20, 2009

Pertemuan Partai Demokrat - PKS

PD Setuju Cawapres SBY Tak Jabat Ketum Parpol
Reza Yunanto - detikPemilu
Jakarta - SBY sudah menyampaikan syarat-syarat yang akan menjadi cawapresnya. PKS pun mengusulkan agar cawapres SBY juga tidak merangkap jabatan sebagai salah satu ketua umum partai. Usulan itu pun disepakati Partai Demokrat.

"Posisi sekarang PKS sudah menyampaikan gagasan dan secara substansif sudah terakomodasi. Bahwa wapres ke depan tidak rangkap jabatan ketua umum partai," kata Ketua Fraksi PKS Mahfud Sidik sebelum rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (21/4/2009).
Mahfud termasuk salah seorang yang ikut dalam pertemuan PKS dengan Demokrat Senin (20/4/2009) malam di Hotel Nikko, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat.
Menurut Mahfud, PKS dan Demokrat masing-masing sudah menyodorkan agenda politik. Namun agenda politik tersebut masih belum tuntas disepakati kedua belah pihak dan masih digodok. Keputusan koalisi akan diumumkan pada sidang majelis syuro pada 25-26 April.

"Kemarin saya dengar omongan Sekjen Partai Demokrat Marzuki Ali bahwa cawapres dan menteri di kabinet tidak rangkap jabatan ketum partai. Sehingga tidak sarat kepentingan. Supaya manajemen kualiti lebih baik," jelasnya.

Mahfud juga menjelaskan PKS menolak JK jadi cawapres bila tetap rangkap jabatan wapres dan ketum Golkar. PKS tidak akan keberatan JK jadi cawapres SBY bila bersedia menanggalkan jabatan ketum parpol.
dari : www.detik.com
Baca Selengkapnya......

Hari Kartini

Setiap tanggal 21 April di Indonesia selalu diadakan perayaan HARI KARTINI, 21 April merupakan hari kelahiran dari Raden Ajeng Kartini istri dari Raden Adipati Ario Djojohadiningrat, Bupati Rembang yang sangat menghargai dan memberikan bantuan sepenuhnya atas usaha Kartini. Beberapa bulan sesudah pindah di kabupaten Rembang, bulan Januari 1904 ia membuka sekolah gadis di tempatnya yang baru itu. Sedangkan sekolah di halaman Kabupaten Jepara diteruskan oleh adik-adiknya.

Sayang, kebahagiaan dan usahanya itu tidak lama dapat dinikmati oleh putri agung ini. Pada tanggal 17 September 1904, lebih kurang satu tahun setelah menikah dan lima hari setelah melahirkan puteranya yang pertama, Kartini meninggal dunia, menghadap Sang Khalik untuk selama-lamanya, dalam usia sangat muda, 25 tahun.

Namun demikian, perjuangan dan cita-cita Kartini tidak terhenti sampai disitu. Tahun 1911, Mr. J.H. Abendanon, salah satu sahabat Kartini yang juga menjabat Direktur Departemen Pengajaran Hindian Belanda menerbitkan sebuah buku berjudul “Door Duisternis tot Licht”. Tahun 1923 buku ini telah mengalami cetak ulang ke-4.

Baru sekitar tahun 1938, Balai Pustaka Jakarta menerbitkan terjemahannya dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku ini berisi kumpulan sebagian dari ratusan surat Kartini kepada para sahabatnya orang Belanda yang ditulisnya antara tahun 1900 hingga 1904. Dalam surat-suratnya itu terbentang cita-cita dan tersirat duka derita batinya. Terasa didalamnya betapa jauh gagasan-gagasan Kartini meninggalkan alam feodal tempat ia dibesarkan. Betapa jauh ke depan pandangan-pandangannya dan betapa besar kasih sayangnya terhadap kaumnya.

Dikemudian hari, surat-surat Kartini itu telah menarik perhatian dunia dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Di Amerika misalnya, seorang bernama Agnes Louise Symmers menterjemahkan kedalam bahasa Inggris berjudul “Letters of Javanese Princess”. Kemudian ada terjemahan bahasa Perancis dengan judul “Letters de R.A. Kartini”, dan masih banyak lagi.
jauh sebelum kartini lahir di Jepara ada seorang bupati perempuan yang sangat disegani.
Asal-Usul Pangeran dan Ratu Kalinyamat
Nama asli Ratu Kalinyamat adalah Retna Kencana, putri Sultan Trenggana raja Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat.
Pangeran Kalinyamat berasal dari luar Jawa. Terdapat berbagai versi tentang asal-usulnya. Masyarakat Jepara menyebut nama aslinya adalah Win-tang, seorang saudagar Cina yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian berguru pada Sunan Kudus.
Versi lain mengatakan, Win-tang berasal dari Aceh. Nama aslinya adalah Pangeran Toyib, putra Sultan Mughayat Syah raja Aceh (1514-1528). Toyib berkelana ke Cina dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Toyib.
Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat. Ia berhasil menikahi Retna Kencana putri bupati Jepara, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Sejak itu, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kesultanan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadiri.
Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara.
Kematian Pangeran Kalinyamat
Pada tahun 1549 Sunan Prawata raja keempat Demak mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi bupati Jipang. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap pada mayat kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat ke Kudus minta penjelasan.
Sunan Kudus adalah pendukung Arya Penangsang dalam konflik perebutan takhta sepeninggal Sultan Trenggana (1546). Ratu Kalinyamat datang menuntut keadilan atas kematian kakaknya. Sunan Kudus menjelaskan semasa muda Sunan Prawata pernah membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen ayah Arya Penangsang, jadi wajar kalau ia sekarang mendapat balasan setimpal.
Ratu Kalinyamat kecewa atas sikap Sunan Kudus. Ia dan suaminya memilih pulang ke Jepara. Di tengah jalan, mereka dikeroyok anak buah Arya Penangsang. Pangeran Kalinyamat tewas. Konon, ia sempat merambat di tanah dengan sisa-sisa tenaga, sehingga oleh penduduk sekitar, daerah tempat meninggalnya Pangeran Kalinyamat disebut desa Prambatan.
Ratu Kalinyamat Bertapa
Ratu Kalinyamat berhasil meloloskan diri dari peristiwa pembunuhan itu. Ia kemudian bertapa telanjang di Gunung Danaraja, dengan sumpah tidak akan berpakaian sebelum berkeset kepala Arya Penangsang. Harapan terbesarnya adalah adik iparnya, yaitu Hadiwijaya alias Jaka Tingkir, bupati Pajang, karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan bupati Jipang.
Hadiwijaya segan menghadapi Arya Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak. Ia pun mengadakan sayembara yang berhadiah tanah Mataram dan Pati. Sayembara itu dimenangi oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Arya Penangsang tewas di tangan Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan, berkat siasat cerdik Ki Juru Martani.
Serangan Pertama Ratu Kalinyamat pada Portugis
Ratu Kalinyamat kembali menjadi bupati Jepara. Setelah kematian Arya Penangsang tahun 1549, wilayah Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipimpin Sultan Adiwijaya sebagai raja. Meskipun demikian, Sultan tetap memperlakukan Ratu Kalinyamat sebagai tokoh senior yang dihormati.
Ratu Kalinyamat sebagaimana bupati Jepara sebelumnya (Pati Unus), bersikap anti terhadap Portugis. Pada tahun 1550 ia mengirim 4.000 tentara Jepara dalam 40 buah kapal memenuhi permintaan sultan Kerajaan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropaitu.
Pasukan Jepara itu kemudian bergabung dengan pasukan Persekutuan Melayu hingga mencapai 200 kapal perang. Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sebagian Malaka. Namun Portugis berhasil membalasnya. Pasukan Persekutuan Melayu dapat dipukul mundur, sementara pasukan Jepara masih bertahan.
Baru setelah pemimpinnya gugur, pasukan Jepara ditarik mundur. Pertempuran selanjutnya masih terjadi di pantai dan laut yang menewaskan 2.000 prajurit Jepara. Badai datang menerjang sehingga dua buah kapal Jepara terdampar kembali ke pantai Malaka, dan menjadi mangsa bangsa Portugis. Prajurit Jepara yang berhasil kembali ke Jawa tidak lebih dari setengah dari yang berhasil meninggalkan Malaka.
Ratu Kalinyamat tidak pernah jera. Pada tahun 1565 ia memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan bangsaPortugis dan kaum Hative.
Serangan Kedua Ratu Kalinyamat pada Portugis
Pada tahun 1564 Sultan Ali Riayat Syah raja Aceh meminta bantuan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Saat itu Demak dipimpin seorang bupati yang mudah curiga, bernama Arya Pangiri, putra Sunan Prawata. Utusan Aceh dibunuhnya. Akhirnya, Aceh tetap menyerangMalaka tahun 1567 meskipun tanpa bantuan Jawa. Serangan itu gagal.
Pada tahun 1573 sultan Aceh meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka kembali. Ratu mengirimkan 300 kapal berisi 15.000 prajurit Jepara. Pasukan yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana itu baru tiba di Malaka bulan Oktober 1574. Padahal saat itu pasukanAceh sudah dipukul mundur oleh Portugis.
Pasukan Jepara yang terlambat datang itu langsung menembaki Malaka dari laut. Esoknya, mereka mendarat dan membangun pertahanan. Tapi akhirnya, pertahanan itu dapat ditembus pihak Portugis. Sebanyak 30 buah kapal Jepara terbakar. Pihak Jepara mulai terdesak, namun tetap menolak perundingan damai karena terlalu menguntungkan Portugis. Sementara itu, sebanyak enam kapal perbekalan yang dikirim Ratu Kalinyamat direbut Portugis. Pihak Jepara semakin lemah dan memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang tiba di Jawa.
Meskipun dua kali mengalami kekalahan, namun Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa dirinya seorang wanita yang gagah berani.
Ratu Kalinyamat Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
RATU Kalinyamat (1549-1579) masih menjadi tokoh sejarah lokal. Ya, sampai kini putri Sultan Trenggana (Raja Demak ke-3) yang juga cucu Raden Patah (pendiri Kesultanan Demak) itu masih belum berstatus sebagai pahlawan nasional, layaknya pemberani asal Aceh Cut Nyak Dien dan tokoh emansipasi wanita asal Jepara, Raden Ajeng (RA) Kartini.

Pemkab Jepara bekerja sama dengan Lembaga Penelitian (Lemlit) Sosial Budaya (Sosbud) Undip Semarang, Rabu (23/11) mengekspose sejarah Ratu Kalinyamat (RK) di aula Kantor Bappeda, dalam persiapan usulan penobatan RK menjadi Pahlawan Nasional.

Ditelisik dari literatur "Babad Demak" dan "Babad Tanah Jawi", ketokohan Ratu Kalinyamat (RK) yang memiliki nama asli Retna Kencana (termaktub dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa) itu tak bisa dipandang sebelah mata. Dia menjadi sedemikian tersohor pada masa Kesultanan Demak di satu sisi, dan di era imperialis Portugis pada sisi lain.

Dalam sejarah Dinasti Demak, RK bahkan lebih menonjol dibandingkan dengan Sultan Hadlirin, suaminya, juga Sunan Prawata, Raja Demak keempat sekalipun. Ratu Jepara (di masanya masih dikenal "Japara") itu, dikenal sebagai pemimpin cerdas yang berperan sebagai pusat keluarga Kesultanan Demak, sepeninggal ayahnya, Sultan Trenggana. Dalam tuturan sejarah tradisional di Jawa menyebutkan, saat itu Kerajaan Demak dalam kondisi cerai berai. Dialah (RK) yang mengasuh adik kandungnya, Pangeran Timur, yang kemudian menjadi Adipati Madiun.

Dalam "Sejarah Banten", RK disebut sebagai pengasuh Pangeran Arya, putra Raja Banten Maulana Hasanudin (1552-1570). Historiografi Banten menyebut bahwa Maulana Hasanudin (putra Sunan Gunung Jati/Fatahillah) adalah pemimpin berdarah Demak yang menjadi pendiri Kesultanan Banten.

RK "dihadiahi" wilayah Jepara dan Pati oleh Hadiwijaya (penguasa Pajang), setelah kehancuran Demak akibat prahara. Kerajaan kemudian berpindah ke Pajang dan Hadiwijaya-lah penguasa pertamanya ("Babad Tanah Jawi").

Dalam sejarah Indonesia, setelah menggantikan suaminya (Sultan Hadlirin) yang dibunuh Arya Penangsang, Jepara mengalami kemajuan tersendiri, sebelum kemudian hancur setelah kalah dalam perang mengusir penjajah Portugis yang bermarkas di Malaka pada 1512-1513 (HJ de Graaf, 1986: 125).

Menurut PJ Veth (1912), Kalinyamat (Jepara) merupakan satu dari delapan daerah merdeka yang utama di Jawa dan Madura, selain Banten, Jayakarta, Cirebon, Prawata, Pajang, Kedu, dan Madura.

Belum ada literatur yang secara jelas menyebut kapan RK wafat. Ada kemungkinan RK wafat pada 1579, yang kemudian digantikan oleh keponakan dan juga putra angkatnya, Pangeran Jepara (HJ de Graaf, 1986: 131).

Wanita Kaya

Sejarawan Portugis De Couto menyebut RK sebagai De Krainage Dame (wanita pemberani). Dia (Couto) pula yang menyebut RK sebagai sosok wanita kaya yang berkuasa (Rainha de Japara, senhora paderosa e rica).

"Dari literatur-literatur yang kami telusuri, RK merupakan satu-satunya wanita di masanya yang paling populer, karena ketokohannya di lingkup Asia Tenggara. Ini karena kiprahnya dalam perjuangannya melawan penjajah Portugis di Malaka, termasuk misi-misi niaga yang menempatkan pesisir Jepara sebagai jalur vital," kata Drs Chusnul Hayati MS, peneliti Lemlit Sosbud Undip Semarang.

Didampingi dosen sejarah Undip asal Jepara Alamsyah SSos MHum, Pembantu Dekan I Fakultas Satra Undip itu menyatakan sangat layak RK dinobatkan sebagai pahlawan nasional. "Urgensinya tentu dari sosok RK bisa diambil teladan dalam pembinaan karakter bangsa," kata Chusnul.
disadur dari :
- sragen news online
- Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
- Muhammadun Sanomae (Harian Suara Merdeka)
Baca Selengkapnya......