Showing posts with label Kisah Insfirasi. Show all posts
Showing posts with label Kisah Insfirasi. Show all posts
Friday, November 20, 2009
Knalpot Kelas Dunia dari Purbalingga
Knalpot
Kelas Dunia Onderdil Purbalingga
Rumah kelir hijau di Desa Patemon, Bojongsari, Purbalingga, Jawa Tengah, itu terlihat sederhana. Namun dari rumah milik Agus Adi Atmaja itulah lahir perlengkapan otomotif kelas dunia. Tak kurang dari merek mewah, seperti Mercedes-Benz dan turunan modifikasinya semacam AMG dan Remus, telah menggunakan produk buatan pria berumur 41 tahun yang dikenal dengan nama Agus Knalpot itu.
Dari luar, tidak ada petunjuk bahwa rumah Agus itu sentra pembuatan onderdil kendaraan. Hanya, ketika memasuki ruang tamu, mulai terlihat adanya kesibukan kerja. Suara besi beradu terdengar berasal dari bagian belakang rumah yang telah dirombak menjadi bengkel pembuatan knalpot itu.
Bengkel knalpot yang tidak terlampau luas itu terhitung sederhana. Lantainya masih plester, kotor dengan pecahan besi dan stainless steel di mana-mana. Satu-satunya alat berat hanya alat pres besi tua. Di satu sudut, di sebuah meja, berjejer knalpot warna perak mengilat bergaya sporty elegan.
Agus mempekerjakan sembilan pemuda lokal. Ketika Gatra berkunjung ke bengkel itu, mereka sedang membentuk lempeng-lempeng stainless steel menjadi bentuk oval dengan godam. Ada pula yang sedang mengelas dan menghaluskan knalpot-knalpot setengah jadi.
Para pemuda itu bekerja dengan santai, sesekali diselingi guyonan. ''Wah, mau masuk koran lagi,'' ujar seorang pekerja ketika difoto.
Agus menamakan bengkelnya Vanvolker Enterprise. Nama ini dicomot dari nama dua putranya: Valiant, 8 tahun, dan Rigel Volker, 2 tahun. Vanvolker juga dipakai sebagai merek knalpot bikinannya. Ia mengaku telah membuat 19 jenis knalpot atas nama Vanvolker, meski hanya 12 macam yang efektif diproduksi.
Agus sendiri yang mendesain bahkan membuat perkakas bengkel, seperti alat pres stainless steel. ''Semua knalpotnya buatan tangan atau hand made,'' kata Agus.
Kebanyakan knalpot Agus digunakan untuk mesin kendaraan berkapasitas besar, di atas 2.000 cc, termasuk untuk motor gede. Untuk mobil, knalpot Agus dipakai oleh mobil-mobil kelas menengah atas, terutama tipe sport. Meksi begitu, Agus juga membuat knalpot untuk mobil-mobil biasa, misalnya merek Toyota dan Daihatsu.
Agus mengklaim, knalpot bikinannya paling bagus. Tak mengherankan jika usahanya terlihat paling moncer se-Purbalingga. Meski punya merek sendiri, Agus sering membikin knalpot merek lain yang lebih kondang. ''Itu karena konsumen yang meminta. Mereka pingin merek terkenal dan lebih gaya. Jadi, saya diminta menjiplak dan membajak,'' tutur Agus yang asli Purbalingga, dengan logat Banyumasan yang amat kental.
***
Agus memulai usaha pada puncak krisis moneter, tahun 1998-1999. Ketika itu, daerah Sayangan, Purbalingga, menjadi sentra knalpot sejak 1970-an, dipelopori oleh Sultoni. Namun bengkel di sana kebanyakan membuat knalpot dari bahan logam bekas.
Sebelumnya, sejak 1950-an, kawasan itu memang terkenal sebagai pusat kerajinan logam. ''Pada pertengahan 1990-an, bisnis knalpot Sayangan dalam masa keemasan,'' kata Agus. Namun, pada 1995, usaha knalpot di Sayangan mulai turun. Tatkala krisis moneter mendera, sentra knalpot di Purbalingga benar-benar kolaps.
Kondisi itu, menurut Agus, lantaran terjadi kejenuhan pasar serta tiadanya inovasi produk dan manajemen. Nah, beberapa pemain baru, termasuk Agus, muncul dan melakukan beberapa inovasi. ''Bahan, desain, manajemen, sampai pemasaran dibuat dengan gaya baru,'' kata lulusan STM Purbalingga dan jebolan fakultas teknik sebuah kampus di Solo serta desain ITB itu.
Usaha produksi knalpot-knalpot bajakan, seperti merek Remus dan HKS, di samping merek Vanvolker, terus berkembang. Bila pada awal usaha Agus menggunakan bahan dari drum bekas, sejak 2004 knalpot buatannya memakai bahan stainless steel. Bahannya dipasok sebuah pabrikan di Jakarta, dengan harga terendah se-Indonesia.
Untuk produksi, kini ia menghabiskan 1 ton stainless steel dalam waktu dua bulan. Dengan 10 karyawan, kapasitas produksinya bisa didongkrak hingga 600 knalpot per bulan.
Harga jualnya variatif. Mulai Rp 35.000-Rp 45.000 untuk knalpot kecil hingga Rp 350.000-Rp 550.000 untuk knalpot besar dan sedang. Untuk pesanan khusus, seperti knalpot Harley Davidson, harganya bisa mencapai Rp 1,8 juta per knalpot. Sayang, Agus tidak bersedia menyebutkan penghasilan bersihnya dalam sebulan.
Agus menjalin kerja sama dengan tujuh hingga delapan pemasar. Jika pada awal usaha ia hanya memasarkan produknya di Bali dan Bandung, kini pasarannya meluas ke hampir semua kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Barat. Menurut dia, pasokan tiap daerah selalu kurang. ''Bali, misalya, per bulan hanya dikirim 80 knalpot, padahal kebutuhannya bisa dua kali lipat,'' ungkap Agus.
Untuk meluaskan pasar, Agus sering ikut pameran, terutama di Jakarta. Pada 2004, ia bertemu wakil Mercedes-Benz di Jakarta dan ditawari untuk membikin knalpotmobil Mercy. ''Mungkin knalpot buatan saya dianggap layak,'' katanya. Agus menyanggupi untuk menangani proses pembuatannya, sedangkan pengadaan bahan dan desainnya menjadi tanggung jawab pemesan.
Pada saat itu, Agus dijanjikan pemesanan berlangsung dua tahap. Selang waktunya lima tahun, sesuai dengan jangka waktu peluncuran seri mobil baru. Pada tahap pertama, dibuat 2.000 knalpot merek AMG untuk 1.000 unit mobil Mercy dalam jangka waktu satu tahun.Harga jualnya Rp 450.000 per knalpot dan Agus menerima fee 10% dari total biaya pembuatan (processing cost). Setelah jadi, knalpot itu dikirim ke Jakarta untuk diekspor ke Jerman.
Namun, kata Agus, apresiasi masyarakat Indonesia pada produk lokal masih kurang. Ini terbukti lantaran banyak konsumen Mercedes-Benz yang komplain karena knalpotnya menggunakan produk lokal. ''Mestinya kan bangga produk lokal dipakai untuk mobil Mercy,'' ujarnya.
Selain membikin knalpot untuk Mercy, pada 2008 Agus juga mengirim 50 knalpot per bulan ke Italia. ''Kemungkinan untukFerrari danLamborghini karena order ini hanya untuk level komunitas mobil sport di sana,'' ungkapnya. Menurut Agus, pabrikan dari dua negara itu sudah kesengsem pada knalpot produksinya.
***
Pada pertengahan 2009, pihak Mercedes kembali mengorder Agus Knalpot. Jumlah ordernya mencapai 5.000 knalpot. Tapi Agus menolak lantaran sudah kewalahan melayani permintaan pasar. Selain lebih ribet dan tidak fleksibel, nilai ordernya juga tidak sebanding dengan seluruh nilai pasar. Ia khawatir, kalau menerima pesanan Mercy, pasar yang telah berkembang jadi terbengkalai.
Pada saat ini, Agus mengaku tak menghadapi kendala dalam berusaha. Soalnya, ia menjalankannya dengan santai. ''Saya sudah merasa lebih dari cukup, ha,ha, ha...,'' kata Agus yang hobi memancing itu.
Ia mengaku, usahanya pernah mendapat bimbingan dari LSM asing, termasuk GTZ dari Jerman dan USAID. Menurut dia, pemerintah juga pernah membantu, yakni empat alat powerpress dari Dirjen Industri Kecil Menengah, Departemen Perindustrian, yang disalurkan via Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga.
Agus mengenang, pada 2005 Pemkab Purbalingga pernah menawarkan potensi produksi knalpot daerahnya ke Astra. Tapi pihak Astra menampik. Namun, tak lama kemudian, perwakilan Astra datang menemui Agus dan menawarkan kerja sama. Tapi Agus menolaknya. Pun demikian dengan tawaran dari Djarum Black. ''Menyita waktu, tapi kurang menguntungkan,'' ujarnya.
Agus mengaku terus melakukan inovasi. Yang terakhir, ia menciptkan knalpot dua moncong yang dilabeli merek Vanvolker. Knalpot untuk sepeda motor itu, kata dia, sudah diuji coba bolak-balik antara Pateman dan Purwokerto, sekitar 20 kilometer, dan knalpotnya tidak terasa panas.
Itu dimungkinkan lantaran Agus menghilangkan sejumlah sekat dalam knalpot yang berfungsi menghilangkan raungan suara mesin. Padahal, menurut Agus, derum itu bisa dihilangkan tanpa harus menambahkan banyak sekat. Nah, mengapa tidak dikembangkan dan dipasarkan? ''Tunggu kalau pas butuh duit, ha, ha, ha...,'' kata Agus seraya terbahak.
Heru Pamuji, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)
[Ekonomi, Gatra Nomor 52 Beredar Kamis, 5 November 2009]
Baca Selengkapnya......
Kelas Dunia Onderdil Purbalingga
Rumah kelir hijau di Desa Patemon, Bojongsari, Purbalingga, Jawa Tengah, itu terlihat sederhana. Namun dari rumah milik Agus Adi Atmaja itulah lahir perlengkapan otomotif kelas dunia. Tak kurang dari merek mewah, seperti Mercedes-Benz dan turunan modifikasinya semacam AMG dan Remus, telah menggunakan produk buatan pria berumur 41 tahun yang dikenal dengan nama Agus Knalpot itu.
Dari luar, tidak ada petunjuk bahwa rumah Agus itu sentra pembuatan onderdil kendaraan. Hanya, ketika memasuki ruang tamu, mulai terlihat adanya kesibukan kerja. Suara besi beradu terdengar berasal dari bagian belakang rumah yang telah dirombak menjadi bengkel pembuatan knalpot itu.
Bengkel knalpot yang tidak terlampau luas itu terhitung sederhana. Lantainya masih plester, kotor dengan pecahan besi dan stainless steel di mana-mana. Satu-satunya alat berat hanya alat pres besi tua. Di satu sudut, di sebuah meja, berjejer knalpot warna perak mengilat bergaya sporty elegan.
Agus mempekerjakan sembilan pemuda lokal. Ketika Gatra berkunjung ke bengkel itu, mereka sedang membentuk lempeng-lempeng stainless steel menjadi bentuk oval dengan godam. Ada pula yang sedang mengelas dan menghaluskan knalpot-knalpot setengah jadi.
Para pemuda itu bekerja dengan santai, sesekali diselingi guyonan. ''Wah, mau masuk koran lagi,'' ujar seorang pekerja ketika difoto.
Agus menamakan bengkelnya Vanvolker Enterprise. Nama ini dicomot dari nama dua putranya: Valiant, 8 tahun, dan Rigel Volker, 2 tahun. Vanvolker juga dipakai sebagai merek knalpot bikinannya. Ia mengaku telah membuat 19 jenis knalpot atas nama Vanvolker, meski hanya 12 macam yang efektif diproduksi.
Agus sendiri yang mendesain bahkan membuat perkakas bengkel, seperti alat pres stainless steel. ''Semua knalpotnya buatan tangan atau hand made,'' kata Agus.
Kebanyakan knalpot Agus digunakan untuk mesin kendaraan berkapasitas besar, di atas 2.000 cc, termasuk untuk motor gede. Untuk mobil, knalpot Agus dipakai oleh mobil-mobil kelas menengah atas, terutama tipe sport. Meksi begitu, Agus juga membuat knalpot untuk mobil-mobil biasa, misalnya merek Toyota dan Daihatsu.
Agus mengklaim, knalpot bikinannya paling bagus. Tak mengherankan jika usahanya terlihat paling moncer se-Purbalingga. Meski punya merek sendiri, Agus sering membikin knalpot merek lain yang lebih kondang. ''Itu karena konsumen yang meminta. Mereka pingin merek terkenal dan lebih gaya. Jadi, saya diminta menjiplak dan membajak,'' tutur Agus yang asli Purbalingga, dengan logat Banyumasan yang amat kental.
***
Agus memulai usaha pada puncak krisis moneter, tahun 1998-1999. Ketika itu, daerah Sayangan, Purbalingga, menjadi sentra knalpot sejak 1970-an, dipelopori oleh Sultoni. Namun bengkel di sana kebanyakan membuat knalpot dari bahan logam bekas.
Sebelumnya, sejak 1950-an, kawasan itu memang terkenal sebagai pusat kerajinan logam. ''Pada pertengahan 1990-an, bisnis knalpot Sayangan dalam masa keemasan,'' kata Agus. Namun, pada 1995, usaha knalpot di Sayangan mulai turun. Tatkala krisis moneter mendera, sentra knalpot di Purbalingga benar-benar kolaps.
Kondisi itu, menurut Agus, lantaran terjadi kejenuhan pasar serta tiadanya inovasi produk dan manajemen. Nah, beberapa pemain baru, termasuk Agus, muncul dan melakukan beberapa inovasi. ''Bahan, desain, manajemen, sampai pemasaran dibuat dengan gaya baru,'' kata lulusan STM Purbalingga dan jebolan fakultas teknik sebuah kampus di Solo serta desain ITB itu.
Usaha produksi knalpot-knalpot bajakan, seperti merek Remus dan HKS, di samping merek Vanvolker, terus berkembang. Bila pada awal usaha Agus menggunakan bahan dari drum bekas, sejak 2004 knalpot buatannya memakai bahan stainless steel. Bahannya dipasok sebuah pabrikan di Jakarta, dengan harga terendah se-Indonesia.
Untuk produksi, kini ia menghabiskan 1 ton stainless steel dalam waktu dua bulan. Dengan 10 karyawan, kapasitas produksinya bisa didongkrak hingga 600 knalpot per bulan.
Harga jualnya variatif. Mulai Rp 35.000-Rp 45.000 untuk knalpot kecil hingga Rp 350.000-Rp 550.000 untuk knalpot besar dan sedang. Untuk pesanan khusus, seperti knalpot Harley Davidson, harganya bisa mencapai Rp 1,8 juta per knalpot. Sayang, Agus tidak bersedia menyebutkan penghasilan bersihnya dalam sebulan.
Agus menjalin kerja sama dengan tujuh hingga delapan pemasar. Jika pada awal usaha ia hanya memasarkan produknya di Bali dan Bandung, kini pasarannya meluas ke hampir semua kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Barat. Menurut dia, pasokan tiap daerah selalu kurang. ''Bali, misalya, per bulan hanya dikirim 80 knalpot, padahal kebutuhannya bisa dua kali lipat,'' ungkap Agus.
Untuk meluaskan pasar, Agus sering ikut pameran, terutama di Jakarta. Pada 2004, ia bertemu wakil Mercedes-Benz di Jakarta dan ditawari untuk membikin knalpotmobil Mercy. ''Mungkin knalpot buatan saya dianggap layak,'' katanya. Agus menyanggupi untuk menangani proses pembuatannya, sedangkan pengadaan bahan dan desainnya menjadi tanggung jawab pemesan.
Pada saat itu, Agus dijanjikan pemesanan berlangsung dua tahap. Selang waktunya lima tahun, sesuai dengan jangka waktu peluncuran seri mobil baru. Pada tahap pertama, dibuat 2.000 knalpot merek AMG untuk 1.000 unit mobil Mercy dalam jangka waktu satu tahun.Harga jualnya Rp 450.000 per knalpot dan Agus menerima fee 10% dari total biaya pembuatan (processing cost). Setelah jadi, knalpot itu dikirim ke Jakarta untuk diekspor ke Jerman.
Namun, kata Agus, apresiasi masyarakat Indonesia pada produk lokal masih kurang. Ini terbukti lantaran banyak konsumen Mercedes-Benz yang komplain karena knalpotnya menggunakan produk lokal. ''Mestinya kan bangga produk lokal dipakai untuk mobil Mercy,'' ujarnya.
Selain membikin knalpot untuk Mercy, pada 2008 Agus juga mengirim 50 knalpot per bulan ke Italia. ''Kemungkinan untukFerrari danLamborghini karena order ini hanya untuk level komunitas mobil sport di sana,'' ungkapnya. Menurut Agus, pabrikan dari dua negara itu sudah kesengsem pada knalpot produksinya.
***
Pada pertengahan 2009, pihak Mercedes kembali mengorder Agus Knalpot. Jumlah ordernya mencapai 5.000 knalpot. Tapi Agus menolak lantaran sudah kewalahan melayani permintaan pasar. Selain lebih ribet dan tidak fleksibel, nilai ordernya juga tidak sebanding dengan seluruh nilai pasar. Ia khawatir, kalau menerima pesanan Mercy, pasar yang telah berkembang jadi terbengkalai.
Pada saat ini, Agus mengaku tak menghadapi kendala dalam berusaha. Soalnya, ia menjalankannya dengan santai. ''Saya sudah merasa lebih dari cukup, ha,ha, ha...,'' kata Agus yang hobi memancing itu.
Ia mengaku, usahanya pernah mendapat bimbingan dari LSM asing, termasuk GTZ dari Jerman dan USAID. Menurut dia, pemerintah juga pernah membantu, yakni empat alat powerpress dari Dirjen Industri Kecil Menengah, Departemen Perindustrian, yang disalurkan via Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga.
Agus mengenang, pada 2005 Pemkab Purbalingga pernah menawarkan potensi produksi knalpot daerahnya ke Astra. Tapi pihak Astra menampik. Namun, tak lama kemudian, perwakilan Astra datang menemui Agus dan menawarkan kerja sama. Tapi Agus menolaknya. Pun demikian dengan tawaran dari Djarum Black. ''Menyita waktu, tapi kurang menguntungkan,'' ujarnya.
Agus mengaku terus melakukan inovasi. Yang terakhir, ia menciptkan knalpot dua moncong yang dilabeli merek Vanvolker. Knalpot untuk sepeda motor itu, kata dia, sudah diuji coba bolak-balik antara Pateman dan Purwokerto, sekitar 20 kilometer, dan knalpotnya tidak terasa panas.
Itu dimungkinkan lantaran Agus menghilangkan sejumlah sekat dalam knalpot yang berfungsi menghilangkan raungan suara mesin. Padahal, menurut Agus, derum itu bisa dihilangkan tanpa harus menambahkan banyak sekat. Nah, mengapa tidak dikembangkan dan dipasarkan? ''Tunggu kalau pas butuh duit, ha, ha, ha...,'' kata Agus seraya terbahak.
Heru Pamuji, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)
[Ekonomi, Gatra Nomor 52 Beredar Kamis, 5 November 2009]
Baca Selengkapnya......
Wednesday, April 22, 2009
Belajar dari Pebisnis Makanan Legendaris Dunia
All money means to me is a pride in accomplishment.
Ray Kroc
Pendiri Mc Donalds
Banyak orang tertarik untuk berbisnis restoran karena melihat kesuksesan para pebisnis restoran. Tetapi banyak orang yang tidak tahu bagaimana perjuangan yang harus dilalui sebelum mencapai kesuksesan tersebut. Semua bisnis yang sukses pasti memerlukan kerja keras, tetapi untuk bisnis restauran, kerja keras saja tidaklah cukup. Ada satu ungkapan yang menarik dari Dominique Chapeau, pemilik Chauntaclair Restoran di Amerika, mengenai bisnis restoran. Menurutnya, seorang pebisnis restoran harus bisa menjadi seorang diplomat, politikus, aktor, salesman, pemain akrobat dan juga keset kaki! If he’s not the strong, silent type, there’s always suicide!
Tetapi banyak juga pengusaha yang bisa menjalani hidup sebagai pebisnis restoran dengan sukses. Beberapa bahkan menjadi legenda di dunia bisnis. Siapa yang tidak mengenal McDonalds, Kentucky Fried Chicken, Wendy’s, Starbucks Coffee? Mall manapun yang kita masuki di kota-kota besar di Indonesia pasti mempunyai minimal satu outlet dari salah satu brand-brand tersebut.
Tetapi taukah Anda bahwa orang dibalik sukses bisnis2 kerajaan makanan itu pernah mengalami hidup susah selama berpuluh-puluh tahun sebelum mereka sukses? Ray Kroc pendiri Mc Donalds tidak pernah tamat SMA dan menjadi supir ambulans pada perang dunia kedua. Dave Thomas, pendiri Wendy’s adalah seorang anak adopsi yang tidak pernah mengenal orang tua kandungnya, bekerja di sebuah restaurant barbecue sajak usia 12tahun. Tom Monaghan pendiri Domino Pizza kehilangan ayahnya pada usia 4 tahun dan menghabiskan masa kecilnya dipanti asuhan.Sekarang mereka semua adalah pemilik kerajaan bisnis makanan yang bernilai ratusan juta dolar… Menarik sekali untuk menelusuri kisah hidup mereka dan belajar dari bagaimana mereka membangun bisnis dari nol menjadi raksasa. Apa sih yang membuat mereka sukses?
1. Kerja keras:
Luck is a dividend of sweat. The more you sweat, the luckier you get.
Ray Kroc
Ada orang yang berpikir jika bisnis sedang tidak baik tandanya hokinya sedang kurang bagus. Tetapi Ray Kroc, pendiri McDonalds, mengatakan bahwa keberuntungan adalah bunga dari kerja keras. Semakin keras kerja Anda, semakin beruntung Anda. Tom Monaghan, pendiri Domino Pizza, sejak kecil adalah seorang pekerja keras. Pekerjaan pertamanya adalah loper koran. Dan selama 13 tahun awal karirnya sebagai seorang pebisnis, dia bekerja 100 jam per minggu, 7 hari seminggu dan hanya berlibur satu kali yaitu saat berbulan madu dengan istrinya, itupun hanya 6 hari. Mendiang Dave Thomas, pendiri Wendy’s, pun terkenal sebagai seorang workhaholic, memulai pekerjaan pertamanya sebagai waiter pada usia 12 tahun dan pada usia 35 tahun menjadi multijutawan. Jadi kerja keras adalah hal pertama yang bisa kita pelajari dari para pebisnis makanan dunia.
2. Mempunyai tujuan
“I believe that everyone on earth has a certain goal/dream in life.”
Tom Monaghan- Founder Domino Pizza
Tom Monaghan kecil terinspirasi oleh cerita mengenai Abraham Lincoln, seorang anak petani miskin yang karena kerja kerasnya kemudian menjadi Presiden Amerik Serikat. Tom kecil mempunyai mimpi untuk tidak hanya mendapat yang baik atau lebih baik tetapi yang terbaik. Mimpi untuk menjadi yang terbaik membuatnya tidak pantang menyerah meskipun beberapa kali harus mengalami kegagalan sebelum akhirnya tercatat sebagai salah satu dari 400 orang terkaya di Amerika Serikat.
Mimpi kemudian menjadi sebuah visi, apa yang ingin kita capai di masa yang akan datang. Visi akan menjaga kita tetap di jalur yang benar menuju kesuksesan, yang memotivasi ketika bisnis tidak semulus yang diharapkan.
Sebagai seorang pebisnis restoran, visi yang dimiliki adalah visi sebagai individu dan juga visi untuk restorannya. Tom Monaghan memiliki visi untuk Domino Pizza, yaitu menjadi Restoran Pizza terbaik di dunia dan saat ini Domino memiliki 5300 outlet dengan 115.000 karyawan dan sales lebih dari 2.5milyar.
Beranilah untuk bermimpi dan jangan menyerah untuk mewujudkan mimpi tersebut adalah hal kedua yang kita pelajari.
3. Passion
“‘We’re not in the business of filling bellies. We’re in the business of filling souls.’”
Howard Schultz
Howard Schultz, CEO Starbucks Coffee, meninggalkan pekerjaannya yang bergengsi di Manhattan karena tertarik dengan passion akan kopi yang dimiliki oleh Gordon Bowker dan Jerry Baldwin, pemilik Starbucks mula-mula. Starbucks adalah bisnis yang membuatnya jatuh cinta dan mengerjakannya dengan sepenuh hati.
Memilik passion terhadap apa yang kita kerjakan adalah sebuah kekuatan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Bisnis yang dijalankan dengan passion adalah sebuah kesenangan yang berbuah kesuksesan. Kopi dan starbucks adalah passion terbesar dari Howard Schultz yang mengantarnya mensukseskan Starbucks dari 3 outlet kecil menjadi 3000 outlet di seluruh dunia.
Cintailah bisnis Anda, dan apa yang Anda kerjakan adalah hal ketiga yang kita pelajari bersama.
4. Kesabaran dan Ketekunan
I made a resolve then that I was going to amount to something if I could. And no hours, nor amount of labor, nor amount of money would deter me from giving the best that there was in me. And I have done that ever since, and I win by it. I know.
Colonel Harland Sanders
pendiri KFC
Taukah Anda berapa lama waktu yang diperlukan oleh Harland Sanders untuk menemukan resep ayam goreng Kentucky yang kita kenal sekarang? 9 tahun! Ya, selama lebih dari 9 tahun Harland Sanders terus melakukan R&D untuk menghasilkan resep rahasia ayam goreng kentucky. Dan ternyata perlu waktu sampai 20 tahun sebelum KFC mulai difranchise-kan dan menuai kesuksesan besar seperti yang sekarang kita lihat.
Kesuksesan memerlukan ketekunan dan kesabaran, bisnis makanan seringkali mengalami pasang surut, diperlukan ketangguhan untuk bisa sukses di bisnis ini. Seperti dalam tulisan saya di Kontan beberapa waktu lalu, seorang pebisnis restoran haruslah seseorang yang senang melayani orang, tidak mudah frustasi, dan tidak mudah lelah.
5. Intuisi Bisnis
Ray Kroc yang dikenal sebagai pendiri McDonalds ternyata bukan lah pemilik McDonalds yang pertama. Adalah McDonalds bersaudara yang pertama kali mendirikan restaurant hamburger ini. Howard Schultz yang sangat identik dengan Starbucks juga bukanlah pendiri Starbucks coffee, Gordon Bowker and Jerry Baldwin adalah yang pertama kali membangun Starbucks coffee. Tetapi Ray Kroc dan Howard Schultz lebih dikenal orang sebagai pendiri McDonalds dan Starbucks karena mereka yang memiliki intuisi bisnis dan kemampuan untuk menangkap konsep dengan segala kerumitannya dan menjalankannya dengan cara terbaik.
Ray Kroc dan Howard Schultz hanya sebagian kecil contoh pengusaha makanan yang sukses mengembangkan bisnis makanan kecil milik orang lain menjadi bisnis besar. Jadi, untuk menjadi pengusaha makanan, Anda tidak perlu harus pintar masak atau memiliki resep rahasia keluarga. Seseorang yang mempunyai intuisi bisnis yang baik dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat orang kebanyakan. Bisnis yang kelihatannya kecil dan tidak menarik ternyata bisa dikembangkan menjadi bisnis besar. Hanya Ray Kroc, seorang salesman mixer, yang melihat bahwa sebuah restauran hamburger kecil di San Bernardino California bisa menjadi sebuah chain restoran fast food terbesar di dunia.
Belajar dari kisah sukses orang lain adalah sangat berharga, bahkan nama-nama legendaris yang kita bahas dalam artikel ini pun ternyata mendapat inspirasi dari kesuksesan pebisnis lain. Howard Schultz terinspirasi oleh Mc Donalds dalam mengembangkan outlet-outletnya. Dave Thomas, pendiri Wendy’s, terinspirasi oleh ketekunan dan kerja keras Colonel Sanders yang sempat menjadi atasannya di KFC. Semoga kita pun dapat menjadi inspirasi untuk membuat orang lain menjadi lebih baik.
Amin.
Ratna Somantri
dimuat di rubrik Refleksi KONTAN 2007
Baca Selengkapnya......
Ray Kroc
Pendiri Mc Donalds
Banyak orang tertarik untuk berbisnis restoran karena melihat kesuksesan para pebisnis restoran. Tetapi banyak orang yang tidak tahu bagaimana perjuangan yang harus dilalui sebelum mencapai kesuksesan tersebut. Semua bisnis yang sukses pasti memerlukan kerja keras, tetapi untuk bisnis restauran, kerja keras saja tidaklah cukup. Ada satu ungkapan yang menarik dari Dominique Chapeau, pemilik Chauntaclair Restoran di Amerika, mengenai bisnis restoran. Menurutnya, seorang pebisnis restoran harus bisa menjadi seorang diplomat, politikus, aktor, salesman, pemain akrobat dan juga keset kaki! If he’s not the strong, silent type, there’s always suicide!
Tetapi banyak juga pengusaha yang bisa menjalani hidup sebagai pebisnis restoran dengan sukses. Beberapa bahkan menjadi legenda di dunia bisnis. Siapa yang tidak mengenal McDonalds, Kentucky Fried Chicken, Wendy’s, Starbucks Coffee? Mall manapun yang kita masuki di kota-kota besar di Indonesia pasti mempunyai minimal satu outlet dari salah satu brand-brand tersebut.
Tetapi taukah Anda bahwa orang dibalik sukses bisnis2 kerajaan makanan itu pernah mengalami hidup susah selama berpuluh-puluh tahun sebelum mereka sukses? Ray Kroc pendiri Mc Donalds tidak pernah tamat SMA dan menjadi supir ambulans pada perang dunia kedua. Dave Thomas, pendiri Wendy’s adalah seorang anak adopsi yang tidak pernah mengenal orang tua kandungnya, bekerja di sebuah restaurant barbecue sajak usia 12tahun. Tom Monaghan pendiri Domino Pizza kehilangan ayahnya pada usia 4 tahun dan menghabiskan masa kecilnya dipanti asuhan.Sekarang mereka semua adalah pemilik kerajaan bisnis makanan yang bernilai ratusan juta dolar… Menarik sekali untuk menelusuri kisah hidup mereka dan belajar dari bagaimana mereka membangun bisnis dari nol menjadi raksasa. Apa sih yang membuat mereka sukses?
1. Kerja keras:
Luck is a dividend of sweat. The more you sweat, the luckier you get.
Ray Kroc
Ada orang yang berpikir jika bisnis sedang tidak baik tandanya hokinya sedang kurang bagus. Tetapi Ray Kroc, pendiri McDonalds, mengatakan bahwa keberuntungan adalah bunga dari kerja keras. Semakin keras kerja Anda, semakin beruntung Anda. Tom Monaghan, pendiri Domino Pizza, sejak kecil adalah seorang pekerja keras. Pekerjaan pertamanya adalah loper koran. Dan selama 13 tahun awal karirnya sebagai seorang pebisnis, dia bekerja 100 jam per minggu, 7 hari seminggu dan hanya berlibur satu kali yaitu saat berbulan madu dengan istrinya, itupun hanya 6 hari. Mendiang Dave Thomas, pendiri Wendy’s, pun terkenal sebagai seorang workhaholic, memulai pekerjaan pertamanya sebagai waiter pada usia 12 tahun dan pada usia 35 tahun menjadi multijutawan. Jadi kerja keras adalah hal pertama yang bisa kita pelajari dari para pebisnis makanan dunia.
2. Mempunyai tujuan
“I believe that everyone on earth has a certain goal/dream in life.”
Tom Monaghan- Founder Domino Pizza
Tom Monaghan kecil terinspirasi oleh cerita mengenai Abraham Lincoln, seorang anak petani miskin yang karena kerja kerasnya kemudian menjadi Presiden Amerik Serikat. Tom kecil mempunyai mimpi untuk tidak hanya mendapat yang baik atau lebih baik tetapi yang terbaik. Mimpi untuk menjadi yang terbaik membuatnya tidak pantang menyerah meskipun beberapa kali harus mengalami kegagalan sebelum akhirnya tercatat sebagai salah satu dari 400 orang terkaya di Amerika Serikat.
Mimpi kemudian menjadi sebuah visi, apa yang ingin kita capai di masa yang akan datang. Visi akan menjaga kita tetap di jalur yang benar menuju kesuksesan, yang memotivasi ketika bisnis tidak semulus yang diharapkan.
Sebagai seorang pebisnis restoran, visi yang dimiliki adalah visi sebagai individu dan juga visi untuk restorannya. Tom Monaghan memiliki visi untuk Domino Pizza, yaitu menjadi Restoran Pizza terbaik di dunia dan saat ini Domino memiliki 5300 outlet dengan 115.000 karyawan dan sales lebih dari 2.5milyar.
Beranilah untuk bermimpi dan jangan menyerah untuk mewujudkan mimpi tersebut adalah hal kedua yang kita pelajari.
3. Passion
“‘We’re not in the business of filling bellies. We’re in the business of filling souls.’”
Howard Schultz
Howard Schultz, CEO Starbucks Coffee, meninggalkan pekerjaannya yang bergengsi di Manhattan karena tertarik dengan passion akan kopi yang dimiliki oleh Gordon Bowker dan Jerry Baldwin, pemilik Starbucks mula-mula. Starbucks adalah bisnis yang membuatnya jatuh cinta dan mengerjakannya dengan sepenuh hati.
Memilik passion terhadap apa yang kita kerjakan adalah sebuah kekuatan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Bisnis yang dijalankan dengan passion adalah sebuah kesenangan yang berbuah kesuksesan. Kopi dan starbucks adalah passion terbesar dari Howard Schultz yang mengantarnya mensukseskan Starbucks dari 3 outlet kecil menjadi 3000 outlet di seluruh dunia.
Cintailah bisnis Anda, dan apa yang Anda kerjakan adalah hal ketiga yang kita pelajari bersama.
4. Kesabaran dan Ketekunan
I made a resolve then that I was going to amount to something if I could. And no hours, nor amount of labor, nor amount of money would deter me from giving the best that there was in me. And I have done that ever since, and I win by it. I know.
Colonel Harland Sanders
pendiri KFC
Taukah Anda berapa lama waktu yang diperlukan oleh Harland Sanders untuk menemukan resep ayam goreng Kentucky yang kita kenal sekarang? 9 tahun! Ya, selama lebih dari 9 tahun Harland Sanders terus melakukan R&D untuk menghasilkan resep rahasia ayam goreng kentucky. Dan ternyata perlu waktu sampai 20 tahun sebelum KFC mulai difranchise-kan dan menuai kesuksesan besar seperti yang sekarang kita lihat.
Kesuksesan memerlukan ketekunan dan kesabaran, bisnis makanan seringkali mengalami pasang surut, diperlukan ketangguhan untuk bisa sukses di bisnis ini. Seperti dalam tulisan saya di Kontan beberapa waktu lalu, seorang pebisnis restoran haruslah seseorang yang senang melayani orang, tidak mudah frustasi, dan tidak mudah lelah.
5. Intuisi Bisnis
Ray Kroc yang dikenal sebagai pendiri McDonalds ternyata bukan lah pemilik McDonalds yang pertama. Adalah McDonalds bersaudara yang pertama kali mendirikan restaurant hamburger ini. Howard Schultz yang sangat identik dengan Starbucks juga bukanlah pendiri Starbucks coffee, Gordon Bowker and Jerry Baldwin adalah yang pertama kali membangun Starbucks coffee. Tetapi Ray Kroc dan Howard Schultz lebih dikenal orang sebagai pendiri McDonalds dan Starbucks karena mereka yang memiliki intuisi bisnis dan kemampuan untuk menangkap konsep dengan segala kerumitannya dan menjalankannya dengan cara terbaik.
Ray Kroc dan Howard Schultz hanya sebagian kecil contoh pengusaha makanan yang sukses mengembangkan bisnis makanan kecil milik orang lain menjadi bisnis besar. Jadi, untuk menjadi pengusaha makanan, Anda tidak perlu harus pintar masak atau memiliki resep rahasia keluarga. Seseorang yang mempunyai intuisi bisnis yang baik dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat orang kebanyakan. Bisnis yang kelihatannya kecil dan tidak menarik ternyata bisa dikembangkan menjadi bisnis besar. Hanya Ray Kroc, seorang salesman mixer, yang melihat bahwa sebuah restauran hamburger kecil di San Bernardino California bisa menjadi sebuah chain restoran fast food terbesar di dunia.
Belajar dari kisah sukses orang lain adalah sangat berharga, bahkan nama-nama legendaris yang kita bahas dalam artikel ini pun ternyata mendapat inspirasi dari kesuksesan pebisnis lain. Howard Schultz terinspirasi oleh Mc Donalds dalam mengembangkan outlet-outletnya. Dave Thomas, pendiri Wendy’s, terinspirasi oleh ketekunan dan kerja keras Colonel Sanders yang sempat menjadi atasannya di KFC. Semoga kita pun dapat menjadi inspirasi untuk membuat orang lain menjadi lebih baik.
Amin.
Ratna Somantri
dimuat di rubrik Refleksi KONTAN 2007
Baca Selengkapnya......
Subscribe to:
Posts (Atom)
